Banyumas – SMA Negeri 1 Banyumas melaksanakan seminar terkait SSK (Sekolah Siaga Kependudukan) pada Kamis, 9 Juli 2026 di Graha Reswara SMA Negeri 1 Banyumas. Acara tersebut dilaksanakan mulai pukul 08.30 sampai 12.00 WIB. Acara tersebut dilaksanakan oleh Bapak Ibu Guru dan Tenaga Kependidikan SMA Negeri 1 Banyumas. Acara tersebut dipandu oleh Ibu Risky Ariyani, S. Pd., M. Pd diawali dengan menyampaikan profil singkat dari narasumber pada acara tersebut yakni Ibu Heni sulistiyowati, S. KM., M.PH. selaku moderator. Ibu Erlien Retnoviyanti., M. Pd. turut mendukung acara tersebut dengan menyampaikan sambutan dan motivasi guna meningkatkan semangat pada acara tersebut.

            Ibu Heni sulistiyowati, S. KM., M.PH. menyampaikan hal yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa SSK (Sekolah Siaga Kependudukan) penting karena angka kelahiran remaja meningkat tahun 2025 ada 19, 8 persen dan terdapat 460 kelahiran pada remaja. Awal tahun 70-an Indonesia mulai laksanakan program KB (Keluarga Berencana) oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Banyumas tahun 1971. Dengan program KB (Keluarga Berencana) mampu menurunkan angka kelahiran secara ideal.

Pembentukan SSK (Sekolah Siaga Kependudukan) di setiap kecamatan minimal 1 SD (Sekolah Dasar) dan berupaya meningkatkan keluarga yang berkualitas serta pengendalian kuantitas. Peningkatan kualitas termasuk pencegahan stunting dan pengembangan keluarga. Dinamika kependudukan sangat berpengaruh pada kesejahteraan penduduk dan mengetahui pentingnya memahami kependudukan

Target kinerja program Bangga Kencana Tahun 2026 Kabupaten Banyumas sesuai dengan nota kesepakatan BKKBN. Kurikulum atau bahan ajar Bangga Kencana di antaranya yakni kependudukan, pembangunan keluarga, KB. Pada kesempatan tersebut Ibu Heni sulistiyowati, S. KM., M.PH. juga berdiskusi dengan pendengar. Pada kesempatan tersebut bertanya jawab dengan Bapak Mulyarno, S. Pd. selaku guru mata pelajaran Biologi yang memberikan edukasi terkait kesehatan reproduksi dan keluarga berencana di kelas XI

Bapak Hendi Widi P., S. Pd., M. Pd. selaku guru mata pelajaran Matematika juga menyampaikan ada relasinya di kelas X saat siswa masuk, ada materi eksponensial sebuah fungsi untuk memodelkan pertumbuhan penduduk. Bapak Wijayanto S., S. Pd. selaku pengampu mata pelajaran olah raga juga menyampaikan saat berolahraga sangat bergantung dengan biologi dan saling terkait dengan mata pelajaran yang lain. Tentunya dengan konten – konten di media sosial juga memberikan edukasi tentang keluarga berencana. Bapak Slamet Riyadi, S. Pd. I . selaku pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam turut menyampaikan bahwa di pelajaran agama ada materi terkait pernikahan. Selalu menyampaikan jika waktunya menikah silakan menikah, agar anak tidak melakukan perbuatan di luar aturan agama seperti pergaulan bebas. Agar siswa tidak mencoreng nama baik sekolah dan keluarga, melihat pergaulan saat ini sangat luar biasa.

Ibu Heni sulistiyowati, S. KM., M.PH. juga menegaskan dan mengajak katakan tidak pada sex bebas, pernikahan dini, dan narkoba. Prinsip dasar, integrasi, intrakurikuler,, kokurikuler, ekstrakurikuler menginegrasikan pembangunan keluarga, fleksibilitas memilih materi, pendekatan, metode pembelajaran disesuaikan. Kontekstual yakni materi kependudukan diajarkan sesuai dengan kondisi keoendudukan di tingkat lokal, nasional, mau pun global. Di perpustakaan dapat menyediakan ruang pojok kependudukan.

Sinergis program SSK dilaksanakan secara sinergis kebijakan, program, atau kegiatan lain yang memiliki substansi sejalan dengan Program Bangga Kencana seperti Pik- Ir dan Genre. Berkelanjutan program SSK dirancang secara berkelanjutan bina keluarga balita, bina keluarga remaja, bina keluarga lansia. Intrakurikuler relevan, kokurikuler buat poster dan sebagainya, ekstrakurikuler pramuka saka kencana dan saka bakti husada, pojok kependudukan.

Simonev penduk merupakan aplikasi untuk SSK saat worshop, pelaksanaan MPLS, pojok kependudukan, mengurangi tingkat pernikahan dini daehamilan remaja. Program prioritas nasional menciptakan program ayah wajib hadir mengambil rapor, melakukan pembinaan pengasuhan karakter. Remaja melalui pusat informasi dan konseling PIK – R ada pendidik sebaya dan konselor sebaya, pendamping sebaya ada pelatihan dari forum genre.

Pada Sesi diskusi penanya pertama yakni Bapak Hendi Widi P., S. Pd., M. Pd., terkait bagaimana gambaran program SSK untuk kegiatan kokurikuler seperti apa. Penanya berikutnya adalah bapak Nugroho, S. Pd. terkait perlindungan hukum jika ada sosialisasi kontrasepsi kepada murid.

Ibu Heni sulistiyowati, S. KM., M.PH. menanggapi pertanyaan dari Bapak Hendi sebagai berikut praktik baik untuk kokurikuler membuat penelitian kependudukan, seminar kependudukan, juga ada pengabdian masyarakat, juga kampanye kependudukan sesuai kemampuan dan kondisi sekolah. Proyek berbasis data kependudukan. Dari pengamatan sekitar berdasarkan isu yang ada di banyumas.

Ibu Heni sulistiyowati, S. KM., M.PH. menanggapi pertanyaan dari Bapak Nugroho sebagai berikut. Terkait kependudukan tidak hanya kesehatan reproduksi tetapi juga ada Pembangunan keluarga yang berkualitas serta stanting. Bagaimana peluang kerja untuk masyarakat. Skrining atau filter di awal ada di keluarga, penguatan dan pendampingan kepada anak dari keluarga. Kita memberikan pemahaman terhadap anak anak tentang kependudukan dan remaja yang berkarakter.

Pemateri ke dua yakni Ibu Sumarti, S. KM., M. Kes. membahas isu – isu remaja, isu kependudukan, angka kelahiran muda 15 – 19 tahun, pernikahan anak tinggi, penyalahgunaan narkoba, kekerasan di sekolah, madrasah, dan pesantren. Ibu Sumarti, S. KM., M. Kes. juga menjelaskan kesehatan mental remaja 33 persen, strawberry generation yakni secara fisik tampan dan cantik tapi mudah tersinggung, kecanduan gawai.

Ibu Sumarti, S. KM., M. Kes. juga menyampaikan keluarga berkualitas, guru menjadi orang tua di sekolah, di tingkat sma fase yang ideal untuk berdiskusi dengan murid masa depan seperti apa yang diinginkan mulai dari sisi ekonomi, dan keluarga. Persiapan membentuk keluarga yang berkualitas melalui edukasi kependudukan, pilar PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) yakni konseling teman sebaya, teman bicara, mekanisme pembentukan sekolah siaga kependudukan melalui laporan simonev penduk, layanan sekolah siaga kependudukan, penulusuran potensi dan kesehatan mental siswa. Barangkali dapat dicoba anak - anak kelas x sudah diberikan life map untuk 5 tahun ke depan, bahkan sampai tes utbk ingin berapa, ad ates iq juga, peduli.site.

Salah satu penanya pada sesi ke dua yakni Ibu Dinar K. R., S. Pd., M. Pd. yang menanyakan terkait fenomena fatherless. Kemudian Ibu Sumarti, S. KM., M. Kes. memberikan tanggapan bahwa BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) menggalakkan program GAMAS (Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah) dan GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia) sebagai upaya pemerintah guna memberikan edukasi dan kesempatan peran ayah di keluarga. (Wid)